- Di Tengah HUT RI ke-81, Rp240 Triliun Program Kopdes Merah Putih Dinilai Celios : Kado Kemerdekaan yang Berpotensi Menjadi Beban Utang Seluruh Rakyat
- Dugaan Bunuh Diri Ternyata Pembunuhan Berencana, Polresta Tangerang Ungkap Kejahatan Kelam Kekasih Berkeluarga
- Semarak HUT RI ke-81: Kades Cikande Oman Saputra Gelar Turnamen Catur, Dibuka Resmi oleh Camat Cikande
- Komplotan Pencurian Besi di Cikande, Sosok Terkenal Mantan Direktur BUMDes, hingga Gaya Hidup Mewah yang Jadi Sorotan
- Bongkar Komplotan Pencurian Besi Senilai Rp135 Juta, Polsek Cikande Amankan 5 Tersangka Termasuk Penadah
- Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke-28 BPPKB Banten DPC Serang, Pemred Info Fakta News, Tetap Jaga Persatuan, Kukuhkan Peran di Tengah Masyarakat
- Hasil Musyawarah Desa Gabus : Warga Dukung PT MPP, Namun Temukan Fakta Baru, Sungai Tetap Hitam Meski Perusahaan Tidak Berproduksi
- PPP Lebak Hadir di Tengah Kemarau, Warga Bintangresmi Terima Bantuan Air Bersih
- Belum Ada Pejabat PPID, Desa Parigi Kecamatan Cikande Dipertanyakan : Pengabaian Hak Informasi Warga Bertentangan UU KIP
- Jalin Kedekatan dengan Warga, Bhabinkamtibmas Desa Koper Luncurkan Program Warung Bhabinkamtibmas
Rumah Hampir Roboh Tempat Tinggal Ibu Marlina dan Dua Anaknya di Aceh Timur, Kondisi Ini Mengetuk Hati dan Keseriusan Pemerintah
PEMRED : Iyan Baduy
ACEH TIMUR - Info Fakta News
Di tengah gempuran berita mengenai kemajuan serta capaian pembangunan yang terus disampaikan, masih ada kenyataan pahit yang tak boleh dibiarkan lewat tanpa perhatian. Demikianlah gambaran yang terlihat pada Minggu, 21 Juni 2026.
Di Dusun Lhok Jaloh, Gampong Buket Rumia, Kecamatan Idi Cut, tinggal seorang ibu bernama Marlina bersama dua orang anaknya.
Mereka menempati sebuah bangunan yang kondisinya sudah hampir roboh sepenuhnya: dinding kayu yang lapuk dimakan usia, struktur bangunan yang rusak parah, serta atap yang tak lagi sanggup melindungi penghuninya dari terpaan hujan dan hembusan angin.
Setiap kali cuaca berubah menjadi buruk, air segera merembes masuk ke seluruh bagian dalam rumah.
Bukan hanya kesulitan fisik yang harus ditanggung, namun rasa cemas yang mendalam senantiasa menyelimuti hati Marlina akan keselamatan kedua anaknya.
Sebagai orang tua tunggal yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, ia terpaksa berjuang sendirian demi menyambung nafas kehidupan keluarganya.
Bagi banyak orang, bangunan itu mungkin hanya terlihat sebagai rumah tua yang tidak layak huni.
Namun bagi Marlina dan buah hatinya, itulah satu-satunya tempat berteduh, tempat beristirahat, sekaligus wadah menyimpan sisa harapan yang masih tersisa.
Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa di balik deretan angka dan laporan keberhasilan pembangunan yang sering dipaparkan, masih ada warga yang hidup dalam ketidakpastian dan risiko bahaya.
Malam yang seharusnya memberikan ketenangan dan kehangatan, bagi mereka justru berubah menjadi waktu yang penuh ketakutan.
Marlina hanya menginginkan satu hal sederhana: memiliki tempat tinggal yang aman dan layak, agar anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang tanpa harus was-was setiap kali hujan turun atau angin kencang melanda.
Kondisi ini mengetuk pintu kesadaran dan tanggung jawab pemerintah, apakah pembangunan yang dilaksanakan hanya sekadar terlihat megah dari angka statistik dan proyek yang berdiri, atau benar-benar menjangkau serta menjamin keselamatan hidup warga yang paling membutuhkan uluran tangan
Bantuan yang diharapkan bukanlah sekadar pemberian materi semata, melainkan pemenuhan hak asasi setiap warga negara untuk hidup layak, merasa aman, serta memiliki tempat tinggal yang menjamin keselamatan jiwa dan masa depan generasi penerus.
Melalui kisah ini, kita mengajak pemerintah daerah untuk turun melihat langsung, mendengar keluh kesah rakyat, dan segera mengambil tindakan nyata.
Jangan sampai suara hati seorang ibu yang berjuang sendirian ini hanya menjadi cerita yang berlalu begitu saja, melainkan menjadi dorongan bagi penegakan keadilan sosial yang sesungguhnya.
Semoga kebutuhan mendesak ini segera mendapat perhatian dan penyelesaian yang patut.
(Red)






