- DPW Ormas Badak Banten Gelar Raker, Perkuat Solidaritas, Wujudkan Organisasi Mandiri dan Bermanfaat bagi Masyarakat
- Dugaan Penyekapan dan Perampasan Barang, Subkontraktor Pembangunan KDMP Lapor Perlakuan Tidak Wajar Kades Nayagati
- Dugaan Penipuan Kepala Desa Ciginggang Ditangani DPMD, LSM GMBI Desak Tindakan Tegas
- Dakwaan Korupsi Tak Terbukti, Kuasa Hukum Minta Oya Masri Dibebaskan
- LSM GMBI Lebak Jalin Silaturahmi ke Polres Lebak, Tegaskan Komitmen Dukung Pemberantasan Korupsi
- Perbedaan Harga Pupuk Subsidi di Cilograng Jadi Sorotan, Diduga Ada Pelanggaran Aturan
- Gudang Cantika Luwu Utara Beroperasi Tanpa Izin, Warga Desak Penutupan dan Proses Hukum
- Mantan Direktur PDAM Lebak Dituntut 4 Tahun 6 Bulan, Kuasa Hukum Sebut, JPU Tidak Berperikemanusiaan.
- Polda Banten Tangkap Empat Pelaku Pencurian Sepeda Motor Terorganisir
- Buron 7 Bulan, Mantan Kaur Keuangan Desa Petir Ditangkap Terkait Korupsi Rp1 Miliar
Lebak, Gelap Sunyi Dipimpin Hasbi
PEMRED : Iyan Baduy
LEBAK - info fakta news
Tidak mudah mendiskusikan kepemimpinan seorang kepala daerah yang menang karena ada peran bapak sebagai penguasa.
Kemenangan Hasbi Jayabaya bagi sekelompok masyarakat adalah kabar kegembiraan, bagi sekelompok lagi kabar duka, dan sekelompok masyarakat yang lain tak perduli siapapun bupatinya. Hal tersebut sudah biasa, panggung politik memang menyediakan banyak selera. Akan tetapi, hari ini masyarakat mesti ikut memperhatikan ulang ada yang perlu kita kritisi bersama terkait sikap dan kelakuan Hasbi Jayabaya usai dilantik menjadi bupati.
Hari pelantikan Bupati seharusnya menjadi momentum bagi Hasbi Jayabaya untuk berkontemplasi diri atas tanggungjawabnya sebagai pemimpin tingkat kabupaten yang memiliki banyak persoalan dan belum juga dapat teratasi dari zaman kepemimpinan bapaknya. Namun, yang dilakukan Hasbi Jayaba justru membuat banyak mata masyarakat terbelalak pada sikap arogannya yang ingin menghapus nama-nama PJ Bupati Lebak dalam prasasti. Hal tersebut menggambarkan Hasbi Jayabaya menjadi bupati hanya untuk menjaga gengsi sebagai anak kandung Jayabaya, ingin menunjukkan pada dunia bahwa Lebak cuma milik anak keturunan Jayabaya.
Rasanya kata “pengabdian” seringkali dijual oleh para politikus habis laris manis menjadi lalapan di masa kampanye, pada praktiknya jauh dari substansi pengabdian itu sendiri. Seperti tim kemenangan Hasbi dimasa kampanye menggemborkan bahwa Hasbi telah banyak pengabdi lewat rumah aspirasi Hasbi, katanya melalui Rumah Aspirasi Hasbi sebagai anggota DPR-RI saat itu telah banyak membantu masyarakat. Padahal, hak-hak ekosob adalah hak dasar bukan semacam hadiah dari pemerintah yang baik hati atau sumbangan karena kasihan, atau bentuk kasih sayang dari sang dermawan.
Apabila rumah aspirasi Hasbi diperuntukkan untuk pemenuhan hak masyarakat hidup sejahtera, maka mestinya sejak saat itu Hasbi mulai menyadari bahwa kemiskinan di Lebak telah berlapis-lapis yang menyebabkan Lebak menempati IPM terendah di Provinsi Banten, dan di hari pelantikan itu Hasbi harus sudah membicarakan bagaimana mengatasi kemiskinan dan rendahnya pendidikan di kabupaten Lebak bukan ngurusin prasasti.
Usai Prasasti terbitlah Plat Nomor cantik mobil milik lawyer kondang kabupaten Lebak yang diposting di akun pribadinya, hal ini semakin menunjukkan kacau balaunya pikiran Hasbi. Plat nomor mobil orang lebih menarik perhatiannya ketimbang jalan poros kabupaten di kabupaten Lebak yang sudah antah berantah rusaknya, menanyakan berapa pajak mobil orang lain lebih perlu daripada mencari tahu ada berapa banyak kasus pelecehan seksual dan sejauh mana keadilannya untuk korban.
Kini muncul lagi gebrakan baru era Hasbi, yaitu setiap sekolah harus membeli foto Hasbi-Amir sebagai bupati dan wakil bupati kabupaten Lebak dengan dilabeli harga 300ribu rupiah, apabila tidak membeli nama sekolah tersebut akan digarisbawahi.
Sebetulnya tidak ada yang perlu dibanggakan dari Hasbi Jayabaya sehingga begitu penting foto itu dibeli dan dipasang di setiap sekolah, tidak ada manfaat dan kegunaan nyata untuk sekolah, dengan di panjangnya foto Hasbi di setiap sekolah tidak akan berpengaruh pada peningkatan kecerdasan siswa, justru apabila setiap sekolah diwajibkan membeli foto Hasbi-Amir adalah praktik feodal dan korupsi yang ditanamkan sejak dalam ruang pendidikan.
Hasbi-Amir beserta parajuritnya yang memiliki kewenangan di kabupaten Lebak memilih untuk sewenang-wenangnya dengan mengintimidasi sekolah jika tak bersedia membeli foto tersebut, ketimbang menekan kepada seluruh civitas akademik tingkat SD-SMA untuk menciptakan ruang aman anti pelecehan seksual.
Bukan hanya kebijakan yang ngaco, kini para aktivis dan mahasiswa sebagian tunduk di bawah keteknya, para akademisi sudah mulai terserah dengan kelakuannya, masyarakat pasrah karena tak ada daya dan upaya, para wakil rakyat juga diam kesumat. Lebak menjadi gelap dan sunyi.
(Red)






