Diduga Pengelola Sampah Pasar Cikande Tidak Profesional dan Kurang Sigap Tangani Sampah.

PEMRED : Iyan Baduy

01 Agu 2025, 13:06:39 WIB

Diduga Pengelola Sampah Pasar Cikande Tidak Profesional dan Kurang Sigap Tangani Sampah.

Lokasi TPS Sampah Pasar Cikande, sudah mulai menumpuk tapi tidak segera diangkut

SERANG - info fakta news

Permasalahan sampah di pasar Cikande dinilai lamban dalam penanganannya, hal ini dilihat karena sering terjadi penumpukan di tempat pembuangan sementara, yang tidak cepat diangkut, pengelola sampah seperti bekerja tanpa program dan target.

Mirisnya tumpukan sampah sering menggunung  bahkan sampai menutupi badan jalan, untuk lintas kendaraan yang merupakan akses pengunjung untuk masuk dan keluar pasar Cikande.

Seperti di sampaikan salah satu pedagang pasar yang tidak bersedia namanya diberitakan, dirinya berjualan menempati kios yang tidak jauh dari TPS Pasar Cikande.

Pada awak media mengatakan,  "kayanya kalau pengelola sampah nya yang sudah faham atau profesional tidak mungkin pekerjaannya lambat seperti ini, dan nunggu numpuk sampai nutup jalan baru di angkut " ucapnya

Lebih lanjut dikatakan " apalagi saat ini sudah masuk musim penghujan, tumpukan sampah semakin banyak tentu ini sangat mengganggu sekali, disamping mengeluarkan bau yang menyengat bikin sesak penciuman,  juga banyak lalat yang berkeliaran ke kios sekitar area TPS  kalau lagi turun hujan ".

Ditambahkannya " padahal kalau iuran sampah semua pedagang tidak ada yang terlewat semua ditagih setiap hari, oleh empat orang kepercayaan pengelola sampah, jadi sebenarnya tidak ada alasan lagi, kalau sampah menumpuk karena kurang biaya untuk pengangkutan, belum lagi truk sampah sudah di bantu pemerintah "

Diketahui bahwa sampah pasar Cikande dikelola oleh perorangan diduga ilegal karena tidak jelas badan usaha dan memiliki izin tidaknya untuk mengelola sampah dalam kapasitas besar di pasar Cikande tersebut.

Entah bagaimana awalnya orang yang tidak ahli sama sekali dalam bidang persampahan dan tidak profesional bisa jadi pengelola sampah, sudah jelas dalam aktivitasnya pun seperti ilegal.
 
Pasalnya dalam pengambilan iuran kebersihan dari para pedagang pun tidak ada karcis retribusi kebersihan seperti seharusnya.

Tentu cara semacam ini diduga dapat dikategorikan praktek pungutan liar (pungli), karena tidak ada karcis yang dikeluarkan dan entah apa yang menjadi dasar hukum dari permintaan iuran sampah ini serta pengelolaannya.

Sudah dapat dipastikan juga selama mengelola sampah diduga tidak pernah membayar pajak penghasilan.

Sampah pasar Cikande di kelola warga setempat inisial (FR) yang menurut informasi dari lapangan, selaku penanggung jawab pengelola sampah ia jarang turun langsung kelokasi untuk melakukan kontrol kondisi sampah di tempat pembuangan sementara.

Wajar saja kalau sampah pasar Cikande selama ini dalam sistem pengelolaannya carut marut diduga karena dikerjakan tanpa adanya arahan dari pengelola.

Pengelola sampah harus nya mengarahkan apa yang harus  dikerjakan para petugas kebersihan pasar agar kerjaan bisa dilakukan sesuai rencana kerja.

Jangan sampai masih ada tumpukan yang masih tersisa di beberapa titik dalam area pasar.

Kalau pun terangkut sampah di pasar dengan rutin, itu merupakan armada sampah yang di kerahkan dari Pemerintah kecamatan Cikande

Yang menjadi pertanyaan uang hasil retribusi kebersihan dari para pedagang pasar yang masuk ke pengelola, digunakannya seperti apa, mengingat sampai saat ini pun sampah sering menumpuk.

Hasil pantauan media di lapangan petugas kebersihan inisial (KM) ditugaskan untuk menyetor uang hasil retribusi dari pedagang, yang setiap harinya tidak kurang dari 700 ribu rupiah, di setor ke rekening BCA (FR) di salah satu BRILink yang ada di Pasar Cikande.

Seperti yang dilakukan (KM) pada Sabtu, 26 Juli 2025 usai menarik retribusi kebersihan, menyetorkan uang sebesar  730 ribu rupiah, ke Nomor rekening BCA (FR), kemudian untuk bukti laporannya ia pun memotret  bukti setor dari hp pegawai BRILink tersebut.

Anehnya pengelola sampah yang diduga tidak mampu melakukan tugas dengan baik, dalam menjaga kebersihan, keindahan dan kesehatan pedagang, pengunjung yang ada di area pasar serta warga sekitar, masih bisa tetap bertahan dan dipercaya para pedagang untuk terus mengelola sampah.

Kalau dilihat cara pengelolaan sampah diduga bukan dikerjakan dengan rasa tanggung jawab tapi semata untuk keuntungan pribadi yang diambil dari retribusi sampah.

Sampai berita ini terbit, masih berupaya menghubungi (FR) selaku pengelola sampah untuk konfirmasi di nomor contac nya yang baru.

(Red)