- Di Tengah HUT RI ke-81, Rp240 Triliun Program Kopdes Merah Putih Dinilai Celios : Kado Kemerdekaan yang Berpotensi Menjadi Beban Utang Seluruh Rakyat
- Dugaan Bunuh Diri Ternyata Pembunuhan Berencana, Polresta Tangerang Ungkap Kejahatan Kelam Kekasih Berkeluarga
- Semarak HUT RI ke-81: Kades Cikande Oman Saputra Gelar Turnamen Catur, Dibuka Resmi oleh Camat Cikande
- Komplotan Pencurian Besi di Cikande, Sosok Terkenal Mantan Direktur BUMDes, hingga Gaya Hidup Mewah yang Jadi Sorotan
- Bongkar Komplotan Pencurian Besi Senilai Rp135 Juta, Polsek Cikande Amankan 5 Tersangka Termasuk Penadah
- Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke-28 BPPKB Banten DPC Serang, Pemred Info Fakta News, Tetap Jaga Persatuan, Kukuhkan Peran di Tengah Masyarakat
- Hasil Musyawarah Desa Gabus : Warga Dukung PT MPP, Namun Temukan Fakta Baru, Sungai Tetap Hitam Meski Perusahaan Tidak Berproduksi
- PPP Lebak Hadir di Tengah Kemarau, Warga Bintangresmi Terima Bantuan Air Bersih
- Belum Ada Pejabat PPID, Desa Parigi Kecamatan Cikande Dipertanyakan : Pengabaian Hak Informasi Warga Bertentangan UU KIP
- Jalin Kedekatan dengan Warga, Bhabinkamtibmas Desa Koper Luncurkan Program Warung Bhabinkamtibmas
Diduga Diterlantarkan Pasien Gawat Darurat, RSUD Dairi Disorot, Keluarga Pasien Minta DPRD dan Dinkes Turun Tangan
PEMRED : Iyan Baduy
MEDAN - Info Fakta News
Pelayanan kesehatan di UPT Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Dairi kembali menjadi sorotan. Kali ini, keluarga seorang pasien berinisial RG, warga Desa Pegagan Julu III, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi, mempertanyakan proses rujukan yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi medis pasien hingga mengakibatkan keterlambatan penanganan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Adam Malik Medan.
Menurut keterangan keluarga, pasien yang berada dalam kondisi membutuhkan penanganan khusus dan mendesak telah dirujuk dari RSUD Dairi ke RSUP Adam Malik. Namun setibanya di rumah sakit rujukan, keluarga mengaku menghadapi kendala administrasi yang menyebabkan pasien belum dapat langsung memperoleh layanan sesuai kebutuhan medisnya.
Persoalan muncul karena surat rujukan yang diterbitkan RSUD Dairi disebut tidak sesuai dengan kebutuhan penanganan pasien. Keluarga berharap rujukan ditujukan untuk pelayanan intensif di ruang ICU, namun permintaan perubahan administrasi tersebut dikabarkan tidak dapat dilakukan karena dianggap tidak sesuai dengan prosedur dan data rujukan yang telah diterbitkan sebelumnya.
Akibat kondisi tersebut, keluarga pasien mengaku kecewa dan menilai pihak RSUD Dairi kurang responsif terhadap kebutuhan pasien yang berada dalam kondisi gawat darurat.
"Pasien sudah membutuhkan penanganan khusus, tetapi administrasi rujukan justru menjadi hambatan. Yang kami harapkan adalah kemudahan pelayanan, bukan sebaliknya," ungkap salah seorang anggota keluarga.
Keluarga menilai rumah sakit daerah seharusnya memastikan seluruh dokumen rujukan telah sesuai dengan kondisi medis pasien sebelum diberangkatkan ke rumah sakit tujuan. Terlebih, dalam situasi yang menyangkut keselamatan jiwa, setiap keterlambatan berpotensi menimbulkan risiko yang lebih besar bagi pasien.
Saat dikonfirmasi awak media, pihak Humas RSUD Dairi membantah adanya persoalan dalam proses rujukan.
"Semua proses surat rujukan tidak ada masalah. Aku pun tidak tahu mana yang salah di situ, Bang. Kalau memang ada masalah rujukan, apakah bisa dirujuk?" ujar pihak humas melalui pesan WhatsApp.
Sementara itu, Direktur RSUD Dairi, dr. Benny Purba, hingga berita ini diterbitkan belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp sejak 22 Juni 2026 belum mendapat respons.
Kondisi ini memicu desakan dari pihak keluarga agar Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara melakukan evaluasi terhadap pelayanan rujukan di RSUD Dairi. Mereka juga meminta DPRD Kabupaten Dairi maupun DPRD Provinsi Sumatera Utara, khususnya komisi yang membidangi kesehatan, segera turun tangan menelusuri persoalan tersebut.
Menurut keluarga, perlu dilakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) guna mengungkap secara transparan apakah telah terjadi kelalaian administrasi maupun prosedur pelayanan yang berdampak terhadap penanganan pasien.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan bukan semata persoalan administrasi, melainkan menyangkut keselamatan dan nyawa manusia. Ketika pasien berada dalam kondisi darurat, kecepatan, ketepatan, dan koordinasi antar fasilitas kesehatan menjadi hal yang tidak dapat ditawar.
Hingga berita ini ditayangkan, pasien RG masih menjalani proses penanganan di RSUP Adam Malik Medan, sementara keluarga berharap adanya kejelasan dan pertanggungjawaban dari pihak-pihak terkait atas peristiwa yang mereka alami.
(Red/Tim)






